Posted by: asepridwan | 3 Nopember 2008

Dimanakah Tuhan?

Dimanakah Alloh swt bersemayam?

Berbicara tentang Alloh swt tak bisa lepas dari agama, dan berbicara masalah agama tak bisa lepas dari dalil.

Dalam keseharian kita, sering kali kita dengar pendapat yang sangat beragam  tentang keberadaan Alloh swt.

Ada yang mengatakan Alloh swt ada dimana mana, ada yang berpendapat bahwa Alloh swt ada didalam hati, ada juga yang mengatakan bahwa Alloh  swt lebih dekat daripada urat nadi.

Lalu dimanakah sesungguhnya Alloh swt itu berada?

Setelah mengumpulkan informasi baik dari Al~Qur’an maupun hadits (yang shahih), serta pendapat para ulama Salaf (yang berpegang pada dalil), ternyata pendapat pendapat tersebut diatas adalah bathil.

Kalau Alloh swt ada dimana mana berarti Dia juga ada di (maaf) wc.

Kalau Alloh  swt ada didalam hati, kenapa sering kali terbersit niat jahat yang pastinya diprakarsai oleh syetan?

Kalau Alloh swt lebih dekat dari urat nadi, lalu kenapa terkadang pertolongan Alloh swt sangat jauh?

Lalu dimanakah sesungguhny Alloh swt berada?

Dari kutipan Al~Qur’an kareem diantaranya QS 7:54, QS 69:17, QS 57:4, QS 40:7, dan banyak lagi

Bahwa Alloh swt berada diatas Arasy yang agung.

Sesungguhnya langit itu ada 7 lapis, dan Arasy ada diatas langit ketujuh diusung oleh para Malaikat yang senantiasa bertasbih meng~Agungkan Alloh swt.

Alloh swt ada dimana mana termasuk di wc itu jelas merupakan pendapat yang bathil alias tidak berdalil, Alloh swt tidak ada di wc, tapi ilmu Alloh swt ada dimana mana meliputi alam raya ini, termasuk di wc, keran air mengalirkan air itu karena ilmu Alloh swt.

Ilmu Alloh swt juga meliputi hati setiap makhluk.

Tentu saja ada jarak antara kita dengan Alloh swt.

Jarak adalah berbanding terbalik dengan kecepatan

Benda/ makhluk tercepat dalam pergerakannya di jagat semesta ini adalah cahaya, kurang lebih 300 ribu km/detik.

Saya berdomisili di Denpasar, kantor saya di Nusadua, jarak antara keduanya kurang lebih 30 km.

Apabila saya bergerak dengan kecepatan 30 km/jam, maka saya akan tempuh jarak tersebut dalam 1 jam.

Kalau saya tambah kecepatannya menjadi 60 km/jam, maka saya akan sampai di kantor saya dalam 1/2 jam.

Dan apabila saya melaju dalam kecepatan 1000 km/jam, masihkah ada jarak antara rumah saya dengan kantor saya?

Mungkinkah Alloh swt bergerak melebihi kecepatan cahaya? PASTI BISA, karena tidak ada yang mustahil bagi Alloh swt. Oleh karenanya apabila Alloh swt berkehendak, maka tidak ada jarak lagi antara kita dengan~Nya (lebih dekat daripada urat nadi).

Pada sepertiga malam terakhir Alloh swt turun ke langit dunia untuk melihat (sifat Alloh swt, tidak sama dengan cara melihatnya makhluk) hamba hamba~Nya yang pada saat tersebut terbangun dan berdoa sementara yang lainnya lelap tertidur.

Dan pada saat tersebut adalah waktu yang mustajabbah, maka berdoalah dengan mengangkat kedua tangan keatas, karena memang Alloh swt (Maha Suci lagi Maha Tinggi) berada diatas (Arasy yang agung diatas langit ke~7)

Kesimpulan

Alloh swt tidak berada dimana mana, tetapi ilmu~Nya ada dimana mana (meliputi jagat semesta).

Alloh swt bersemayam diatas Arasy yang agung, tetapi tidak bisa ditakwil seperti bersemayamnya makhluk, karena Alloh swt tidak serupa dengan makhluk~Nya.

Walaupun ada jarak yang sangat jauh antara kita dengan Alloh swt tetapi bagi~Nya sangatlah mudah untuk menjangkau siapa saja yang dikehendaki~Nya dengan sangat cepat (tanpa jarak)

Selain sholat fardlu, sholat dan berdoalah di sepertiga malam terakhir, karena saat itu Alloh swt sangat dekat dengan kita

Semoga Alloh swt senantiasa memberi rahmat~Nya kepada kita semua

Posted by: asepridwan | 15 Oktober 2008

Sedekah Rp. 1M/ hari


Sedeqah Rp. 1 Milyar per hari… mau?

Judul dari tulisan ini merupakan pertanyaan yang kerap kali saya lontarkan setiap ada kesempatan.

Jawaban dari mereka beragam, ada yang serius nanggapin, ada juga yang asal kena aja..

Rata rata sih mereka pada ngak percaya kalo sebenarnya kita bisa bersedeqah Rp. 1 Milyar per hari.

Kalo Korupsi Rp. 1 Milyar sih mungkin…. Kata salah satu teman.

Mengutip salah satu hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhory dan Imam Muslim (mutaffaq Alaih)… Rasululloh SAW. Bersabda, siapa yang mengamalkan kalimat Laailahailalloh Wahdahu Laa Syarikallah Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu Wa Hua Ala Kuli Syaiin Qodir sebanyak 100X dalam sehari, maka baginya pahala seperti memerdekakan 10 orang Budak.

Saya lalu bertanya pada beberapa sumber tentang perbudakan, dan disimpulkan, harga seorang Budak adalah kurang lebih Rp. 100 Juta.

Jadi 10 orang Budak berarti senilai Rp. 1 Milyar.

Kalimat tersebut diatas menurut saya sangat pendek dan gampang dihapal, dan amalan tersebut dicontohkan oleh Rasululloh SAW.

Kita kadang menjumpai amalan yang cukup panjang dan dalam jumlah yang banyak, sampai ada yang 4444X dsb. Disamping mengada ada, dan tidak dicontohkan oleh Rosululloh SAW, juga amalan tersebut sangat memberatkan.

Alih alih ingin mendapat Rahmat, malah Murka Alloh yang didapat (Naudzubillah).

…Sebaik baik ucapan adalah kitabullah, sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW, sejelek jelek perkara adalah yang diada adakan, seiap yang diada adakan adalah Bid`ah, setiap Bid`ah adalah sesat, setiap yang sesat tempatnya di Neraka..

Kembali kepada amalan diatas, kalo kita membaginya dalam setiap selesai sholat 5 waktu, maka masing masingnya akan menjadi 20X. (berat kah?)

Selamat mengamalkan, semoga Alloh Ridho pada kita semua, Aamiin

Posted by: asepridwan | 30 September 2008

Penyesalan di akhir Ramadhan

Selepas Dzuhur di hari ke tiga puluh Ramadhan, disebuah masjid, semua jamaah sudah pulang, aku masih leyeh leyeh karena hari ini aku merasa capek banget, ah sekalian ngabuburit aja lah, toh ini puasa terakhir, langsung maghrib di Masjid aja lah.

Saat aku ngantuk berat, tiba2 datang seorang lelaki yang masya Alloh bukan maksud menghina, tapi penampilan orang itu sungguh memprihatinkan, baju lusuh cenderung kumal, kedua tangannya buntung, mulutnya sumbing, matanya kayakna buta, telinganya kelihatan ngak sempurna, hidungnya cacat, langkahnya agak berat sambil terseret seret, dan puncak kekagetanku adalah…Subhanalloh, wajahnya mirip aku (kecuali cacatnya….) perawakannya juga…. Beberapa saat aku jadi melongo…

“Assalamualakium…” katanya, “Waalaikum salam…silahkan duduk mas…” jawabku.

“Sampeyan sepertinya bukan orang sini, saya Asep…” kataku. “ Saya… ngak penting lah..” katanya

“Bagaimana puasanya?” dia bertanya, dari nadanya sangat serius.

Lama aku bengong, harus kah aku jujur, maksudku bilang padany kalo aku pernah batal 2X, dst.. dst…

Hening lama sekali…

Akhirnya dia melanjutkan kata katanya, seolah menggumam

“ Aku ini begini karena kelalaian… kedua tangan ini buntung karena aku membatalkan puasa dengan tanpa alasan yang dibenarkan sebanyak 2X, bibirku sumbing karena aku tidak pernah tadarus dan malah banyak megeluarkan kata kata kotor, mataku buta karena aku malah asyik melihat sesuatu yang diharamkan untuk dilihat, telingaku cacat karena aku malah lebih bayak mendengarkan hal hal yang tak berguna ketimbang ceramah keagamaan, begitu pula hidungku, dan anngota badan lainnya…”

“Ah bajuku juga… harusnya bersih dan baru seandainya saja tiap hari aku rajin sodaqoh dan beramal, dan aku juga pasti wangi dan ngak kumal seandainya aku rajin beribadah, kakiku juga ngak berat dan terseret seret seperti ini andaikan aku rajin berdiri dimalam hari untuk menghadapnya, tapi sepertinya hari ini sudah terlambat…”

Lama hening, aku koq seperti merasa kalau dia sedang menyindirku, karena apa yang dia gambarkan tepat sekali dengan apa yang terjadi padaku.

Lalu kuberanikan diri bertanya “ Mas, kenapa bilang terlambat, bukannkah pintu Tobat masih terbuka?”

Dia menoleh kearah ku, “ Aku ini diciftakan awal Ramadhan, hidup selama bulan Ramadhan, dan besok aku mati”

Aku terhenyak, semakin ngak ngerti. Jangan jangan…. Aku jadi merinding…

“Mas ini siapa sih?” kuberanikan bertanya…

“Aku ini ya kamu, amalanmu selama Ramadhan ini, ya begini inilah…..”

“Astagfirullah…. Aku merasa tubuhku dingin sekali, aku ngak bisa berkata sepatah kata pun…

“Bisakah aku perbaiki…?” kataku parau

“Ramadhan ini mungkin tidak, tapi bertaubatlah… semoga Alloh mengampuni”

“Tapi bisakah aku diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan lagi…” potongku.

“Wallohu a`lam, berdo`a saja, semoga Alloh mengabulkan, dan berjanjilah untuk sungguh sunguh melewatinya dengan ibadah..”

Dia berdiri dengan terseret seret dia pergi “ mungkin aku bisa jalan lancar seandainya di detik detik akhir ini kamu mau bersodaqoh dan tadarus… Assalamualaikum…”

“Waalaikum salam…” pelan sekali, hamper ngak kedengaran, sampai seseorang membangunkanku dan mengatakan

“Mas, sudah Ashar, mari kita sholat berjama`ah…

……….

Posted by: asepridwan | 22 September 2008

ke MAMPU an vs ke MAU an

Kemampuan vs Kemauan

Iedul Adha masih sekitar Empat bulan lagi, tetapi dibanding Iedul Fitri yang tinggal beberapa hari lagi, saya lebih tertarik untuk membahas Iedul Adha, karena ada Qurban disana.

Bicara Qurban, pendapat ulama sangat beragam, ada yang mengatakan WAJIB bagi yang MAMPU, ada juga yang mengatakan SUNAH bagi yang MAMPU.

Tapi pada kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas masalah hukum Qurban, WAJIB ataukah SUNAH, karena memang sejujurnya saya sangat kurang akan pemahaman tentang hal tersebut, saya hanya ingin mengulas kata MAMPU dari kata “…bagi yang MAMPU”.

Dalam sebuah obrolan, saya informasikan kepada seorang teman dekat bahwa saya kenal orang yang propesinya sebagai penjual kambing, kali aja tertarik, sehingga pada waktunya Iedul Adha nanti tidak susah lagi mencari kambing untuk Qurban.

“ Itukan bagi orang yang mampu” katanya enteng, saya lantas terdiam.

Dirumah selepas Tarawih, saya termenung, kata-kata teman saya tadi sangat menggangu buat saya, saya lantas menaksir ke-MAMPU-an dia.

Dia memiliki sepeda motor yang lumayan berkelas, juga mempunyai Handphone yang lumayan mahal, walaupun saya tau itu semua didapat secara kredit, gaya hidupnya pun menurut saya diatas rata-rata, baik dari merek pakaian maupun dimana dia makan, dan dia juga perokok berat dengan minimal sebungkus sehari.

Ah… kenapa saya jadi memikirkan semua itu, tapi memang semua itu sangat mengganggu buat saya.

Bukan… bukan karena saya iri, sama sekali tidak, tapi saya tidak habis fikir, kenapa dengan kondisi yang seperti itu koq dengan entengnya mengatakan `TIDAK MAMPU` untuk ber Qurban.

Memang sih dia tidak mengatakan seperti itu, tapi kalimat “ itukan bagi yang MAMPU” artinya sama dengan dia menganggap dirinya ngak mampu (semoga saya salah ya, sehingga kelak dia akan ber Qurban, aamiin).

Menurut saya ke MAMPU an itu relatif bagi setiap orang, dan yang tau tentang itu hanya yang bersangkutan dan Alloh saja.

Tetapi logikanya, kalo seseorang mampu membeli sesutau yang harganya lebih mahal dari seekor KAMBING, berarti dia termasuk orang yang MAMPU untuk membeli kambing, terlepas dari cash, atau menabung (selama 365 hari).

Mari kita berhitung, sebungkus rokok harganya Rp.9000. Kalau tiap hari beli, maka dalam setahun akan menghabiskan dana Rp.3.285.000.

Kita semua tahu, bahkan seorang perokok sekalipun tahu bahwa selain merusak, merokok itu adalah satu perbuatan sia sia, bahkan sebagian masyarakat ada yang mendesak MUI untuk menerbitkan fatwa haram merokok.

Tapi untuk menyuruh berhenti si perokok, tentu tidaklah semudah membalik telapak tangan, oleh karena itu, saya tidak menyarankan berhenti (meskipun kalo bisa, itu akan jauh lebih baik) tapi hanya MENGURANGI (tapi jangan mengurangi rokok teman ya…) saja.

Katakanlah bisa mengurangi setengahnya, yang biasanya tiap hari satu bungkus menjadi satu bungkus untuk dua hari, maka akan ada dana ditangan sebesar Rp.1.642.500.

Sejumlah dana yang Insya Allah (semoga harga KAMBING tidak naik drastis akibat kenaikan BBM ya) bisa untuk membeli seekor KAMBING.

Kalau kita bisa membeli sepeda motor seharga berlipat lipat dari harga kambing (walaupun nyicil), dan kita juga mampu membeli Handphone yang harganya Empat kali harga KAMBING, dan kita mau belajar untuk hidup sehat dengan mengurangi (kalau bisa sih berhenti aja) me ROKOK, masihkah pantas untuk mengatakan TIDAK MAMPU ber QURBAN?.

Teman, maafkan saya yang telah berprasangka terhadapmu, tapi sungguh, saya hanya ingin berbagi, bahwa KALAU ADA KEMAUAN PASTI ADA JALAN, kalau kita menganggap diri kita MAMPU, maka Insya Alloh kita MAMPU, karena kreatifitas kita akan berjalan untuk mewujudkannya, begitupun sebaliknya, kalau kita menganggap diri kita TIDAK MAMPU, maka kitapun akan TIDAK MAMPU, karena tidak ada lagi kreatifitas, dibunuh oleh pernyataan dan keyakinan kita sendiri.

Semoga Alloh senantiasa memberikan ke MAMPUAN bagi kita untuk tetap MAU dan MAMPU berbuat kebaikan.

Posted by: asepridwan | 18 Juni 2008

Agama

Akhir akhir ini sebagaimana kita ketahui bersama, semua hal dari mulai politik, sosial, budaya, sampai agama selalui diwarnai dengan konflik pro dan kontra.

Sebetulnya itu wajar, karena setiap sesuatu pasti punya dua atau lebih sisi, tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Hanya saja kewajaran ini menjadi tidak lagi wajar ketika para pihak berusaha untuk menafsirkan sisi lain yang justru belum atau tidak pernah dia lihat.

Untuk aspek lain diluar agama, barangkali ini masih wajar, karena sepertinya ini hanya perang logika yang sarat akan kepentingan, namun kalo sudah menyangkut agama, dimana moral dan akhlak terlahir darinya, juga dijadikan ajang peperangan logika dan kepentingan, sepertinya tak ada lagi tolok ukur yang akan jadi wasit bagi kita semua.

Agama sejatinya adalah pencerahan bagi pengikutnya, untuk hidup bahagia dan berdampingan dengan agama lainnya.

Sayangnya, sekarang bahkan “Agama” tak lagi menjadi pencerah dan sumber untuk menjalin kebersamaan, bahkan “Dakwah” adalah kata kata retorika yang bertolak belakang dengan perbuatan.

Saya, dan mungkin beberapa orang, sangat merindukan fungsi Agama kembali Sakral, menjadi pencerah dan semangat untuk kebersamaan.

Posted by: asepridwan | 18 Juni 2008

Halo dunia!

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Categories